Cara Mengetahui Iklan Mana Yang Benar-Benar Menghasilkan Penjualan Untuk Toko Online Lokal (Facebook Ads & Adwords)

Semua advertiser yang sukses, pasti memiliki dan menguasai 4 skill ini ketika beriklan:

  1. Bisa mengenali dan menemukan market atau audience yang tepat untuk suatu produk.
  2. Mampu meramu copywriting ataupun materi iklan yang engaging untuk market tersebut.
  3. Tau seluk beluk platform beriklan yang digunakan, bagaimana memanfaatkan fitur-fitur yang ada.
  4. Dan… Kemampuan untuk menganalisa performa dari campaign yang dijalankan untuk memaksimalkan ROI.

Penting untuk memahami dan melatih 4 skill tersebut terus-menerus agar setiap kita beriklan kita sudah tau apa yang harus kita lakukan.

Buat yang ingin mulai melatih skill-skill tersebut secara lebih mendalam dan terstruktur teman-teman bisa belajar di IM UPCLASS.

Khusus untuk Skill No 4, ada keunikan tersendiri kalau kita beriklan untuk market Indonesia.
Biasanya… proses belanja online alurnya adalah seperti ini:

Masuk Landing Page > Pesan Produk > Transaksi Pembayaran

Dan semua proses tersebut terjadi di satu tempat, yaitu di dalam website.

Tapi…

kalau untuk market lokal prosesnya bertambah dan berubah menjadi seperti ini:

Masuk Landing Page > Pesan Produk > Follow Up dan Tanya Jawab -> Transaksi Pembayaran

Alur diatas terjadi karena memang belum semuanya teredukasi dan terbiasa untuk belanja online menggunakan sistem add to cart dan online payment.

Untuk alur yang pertama tracking campaign sangat mudah dilakukan karena semua proses terjadi di satu tempat.

Tapi untuk alur yang kedua kita akan kesulitan untuk tracking campaign karena setelah tahapan “Pesan Produk”, aktifitas customer sudah berpindah tempat, bukan lagi di dalam website tapi sudah pindah ke chat ataupun sms.

Sehingga kita tidak bisa secara pasti mengetahui campaign atau iklan mana yang benar-benar mendatangkan customer yang sampai pada tahap pembayaran.

Kalau kita mengandalkan iklan atau paid traffic untuk menjaring customer tentunya ini adalah masalah yang penting untuk dicari solusinya.

Karena tentunya kita mau scale up iklan yang memang menghasilkan transaksi kan?

Kalau alur transaksinya seperti alur kedua pasti bingung mau scale up iklan yang mana.

Wajar sih karena memang kita gak 100% tau iklan mana yang benar-benar convert. Karena sistem tracking pada platform beriklan seperti facebook ads dan adwords hanya bisa tracking aktifitas yang terjadi di dalam website saja.

Kalau di facebook ads mungkin bisa gunakan offline conversion, tapi karena facebook harus mencocokkan dengan database nya jadi data offline conversion mungkin hanya beberapa saja yang bisa cocok dengan database facebook.

Nah, sekarang kita akan bahas cara alternatif untuk bisa tracking campaign untuk alur kedua dan tau iklan mana yang benar-benar menghasilkan transaksi.

Tapi… cara ini hanya berlaku untuk:

  1. Tipe iklan yang menggunakan link yang mengarah ke landing page/website
  2. Menggunakan form untuk jalur pemesanan, belum bisa untuk yang langsung menggunakan tombol pemesanan via chat.

Yaudah, langsung aja kita bahas cara tracking nya…

Di bagian pertama ini saya akan bahas dulu cara tracking untuk website yang menggunakan wordpress, untuk website yang menggunakan platform lain akan dibahas di bagian kedua.

Bonus: Dapatkan Versi Video Tutorial dari artikel ini yang menunjukkan step by step Tracking Online Shop secara lebih jelas

Buat Halaman Form Pemesanan Pada Worpress

Kita akan menggunakan beberapa plugin disini.

1. Install Plugin Caldera Form


2. Install Plugin Google Sheet Integration for Caldera Forms


3. Buat File Google Sheet Baru.

Buat yang belum pernah pakai Google Sheet, cukup punya akun Gmail aja udah bisa buat google sheet baru (GRATIS).


Beri nama file Google Sheet nya:


Beri nama untuk worksheet yang akan digunakan untuk mempermudah identifikasi:
Misalnya “Data Pesanan”


4. Integrasikan Akun Google dengan Caldera Form.

Buka pengaturan plugin Google Sheet Integration for Caldera Forms


Klik tombol “Get Code”


Pilih akun Google yang digunakan untuk membuat Google Sheet


Pilih “Allow”


Copy code yang diberikan


Masukkan code tersebut ke dalam pengaturan Google Sheet Caldera, kemudian Save.


Kalau berhasil akan muncul pesan seperti ini:

Sekarang akun Google sudah terintegrasi dengan Caldera Form.

5. Buat Form Baru di Caldera Form

Pilih “New Form”


Pilih “Blank Form”


Beri nama form nya, misalnya “Form Pemesanan”. Kemudian klik Create Form:


6. Tambahkan Field Yang Akan Digunakan Dalam Form Pemesanan.

Field nya boleh apa saja sesuai kebutuhan. Tapi yang penting dan wajib ada adalah Hidden Field dengan Magic Tag.

Hidden field ini adalah field yang akan kita gunakan untuk menangkap value dari url parameter, dimana parameter inilah yang akan membedakan traffic yang masuk berasal dari campaign ataupun iklan yang mana.

Buat yang sudah terbiasa dengan Google Analytics, contoh url parameter yang biasa digunakan adalah utm_source, utm_medium, dan lain-lain.

Pada Form baru ini, sebagai contoh kita akan menambahkan 7 field:

  • Field Nama
    Untuk merekam nama customer
  • Field No HP
    Untuk merekam nomor hp customer agar bisa di follow up
  • Hidden Field source
    Untuk merekam traffic source yang mendatangkan customer, contoh: Facebook, Google, dll.
  • Hidden Field medium
    Untuk merekam tipe traffic yang mendatangkan customer, contoh: post engagement ads, display network, dan lain-lain.
  • Hidden Field campaign
    Untuk mengetahui campaign mana yang mendatangkan customer.
  • Hidden Field content
    Untuk mengetahui iklan mana di dalam campaign yang mendatangkan customer
  • Submit Button

Cara menambahkan field nya adalah dengan menggeser tombol “Add Field” ke dalam box putih kosong dibawahnya:

Untuk field Nama dan No HP kita bisa gunakan tipe field Single Line Text.

Beri nama untuk field tersebut, nama ini akan digunakan sebagai label pada form agar customer tahu data apa yang harus diisi pada field tersebut.

Contoh:

  • Nama Anda pada field Nama
  • No HP Anda pada field No HP

Berikutnya kita akan tambahkan hidden field, buat field baru dan pilih hidden untuk tipe field nya.

Untuk penamaan field nya sesuaikan saja dengan value apa yang ingin dimasukkan pada field tersebut:

Contoh:
Field: source
Nama Field: source

Yang mesti diperhatikan pada di hidden field ini adalah pengaturan value nya, klik pada kolom value dan pilih {get:*} di bawah System Tags.

Setalah itu ganti tanda bintang (*) dengan url parameter apa yang akan kita tangkap value nya.

Contoh:
Untuk menangkap value dari source kita akan ganti tanda bintang (*) dengan source, sehingga menjadi {get:source}.

Lakukan hal yang sama untuk hidden field lainnya.

Kemudian tambahkan button untuk submit Form. tambah field baru dan pilih Button untuk tipe field nya.

Beri nama untuk label dari button nya kemudian pilih Submit pada tipe button.

Kalau semua field sudah dimasukkan, hasil akhirnya akan terlihat sepeti ini:

Berikutnya klik tombol “Save Form” untuk menyimpan Form nya.

7. Integrasikan Form Dengan Google Sheet

Pilih menu Processors, kemudian klik tombol Add Processors

Pilih Google Sheet pada pilihan tipe Processors.

Buka Google Sheet yang sudah kita buat tadi dan masukkan nama file Google Sheet nya ke dalam kolom “Sheet Name” dan nama Worksheet nya pada kolom “Sheet Tab Name”.

Centang pilihan “Automatically generate header for all fields”.

Kemudian “Save Form” kembali.

8. Buat Halaman Baru Untuk Form Pemesanan

Masuk ke halaman utama Caldera Form, lalu pilih form yang baru saja dibuat kemudian klik Get Shortcode.

Copy shortcode dari form tersebut

Masukkan shortcode form tersebut ke dalam halaman baru yang akan dibuat, bisa menggunakan Post ataupun Page. Kemudian publish Post atau Page tersebut.

Kemudian pada Landing Page produk silahkan buat tombol yang mengarah pada halaman ke halaman Form Pemesanan ini.

 

Catatan:

Kalau menggunakan halaman yang berbeda untuk landing page dan form pemesanan, biasanya url parameter akan hilang begitu customer berpindah halaman. Sehingga Caldera Form tidak bisa mendeteksi url parameter yang ada di Landing Page.

Untuk menjaga agar url parameter tidak hilang kita akan menggunakan bantuan Google Tag Manager.

Cara Konfigurasi Google Tag Manager

1. Bagi yang belum punya akun Google Tag Manager, silahkan buat dulu akunnya (FREE) dan masukkan script tag manager ke dalam website.

2. Buat Variable baru pada Tag Manager

Pilih menu “Variables” kemudian klik tombol NEW

Kita akan membuat variable berdasarkan value dari url parameter, sehingga pada nama variable bisa disesuaikan dengan nama parameter yang akan di track.

… dan pada pilihan tipe variable, pilih URL.

Pada kolom Component Type pilih “Query”

Pada kolom Query Key masukkan url parameter apa di landing page yang akan di track value nya dengan variable ini.

Contoh:
Pada variable source kita akan track value dari parameter utm_source di landing page.

Kemudian Save variable tersebut.

Buat variable lainnya untuk parameter lainnya, dengan konfigurasi variable yang sama dengan variable source diatas. Hanya berbeda pada isian Query Key  saja:

  • medium -> utm_medium
  • campaign -> utm_campaign
  • content -> utm_content

Kalau sudah kita akan punya 4 variable yang masing-masing akan menyimpan value dari url parameter yang ada pada landing page.

3. Buat Tag baru yang fungsinya untuk append atau menambahkan url parameter baru dari variable yang sudah kita buat.

Pilih menu Tags dan klik tombol NEW

Beri nama Tags tersebut dan pilih “Custom HTML” pada pilihan tipe Tags.

Contoh nama: Append URL Parameter in Form URL

Masukkan Script Berikut pada editor

<script type="text/javascript">
    // Set the domain/URL to your website.
    var myDomain = "url halaman form pemesanan";
    // Grab all links (anchor tags)
    var links = document.getElementsByTagName('a');
    // Loop through all links
    Array.prototype.forEach.call(links, function (link) {
        // If we find a link that does not go to my domain
        if ( link.href.indexOf(myDomain) > 0 ) {
           // Take the href and append the UTM parameters
           link.href += '?source={{utm_source}}&medium={{utm_medium}}&campaign={{utm_campaign}}&content={{utm_content}}';
        }
    });
</script>

Pada script tersebut silahkan ganti “url halaman form pemesanan” dengan url dari halaman form pemesanan di website masing-masing.

UPDATE:
URL yang dimasukkan tidak perlu menggunakan (http://). Yang dimasukkan adalah yang setelah (http://)

Dan pada bagian…

link.href += '?source={{utm_source}}&medium={{utm_medium}}&campaign={{utm_campaign}}&content={{utm_content}

Silahkan cocokkan parameter source, medium, campaign dan content dengan parameter yang di track dengan hidden field pada caldera form.

… dan juga pada {{utm_source}}, {{utm_medium}}, {{utm_campaign}}, dan {{utm_content}} silahkan cocokkan dengan nama variable yang telah dibuat sebelumnya.

Pada konfigurasi trigger, buat trigger baru yang gunanya adalah untuk menjalankan script diatas hanya pada halaman landing page saja.

Pilih DOM Ready pada pilihan tipe trigger dan beri nama trigger tersebut.

Contoh: Landing Page – DOM Ready

Pilih “Some DOM Ready Events” dan pada pilihan “This trigger fires on”

Pada konfigurasi dibawahnya pilih “Page URL” contains “slug dari url landing page”

Contohnya seperti dibawah:

Kemudian klik SAVE untuk menyimpan Trigger.

Dan klik SAVE lagi untuk menyimpan Tags

Kalau sudah berhasil membuat Tags klik tombol SUBMIT dan kemudian PUBLISH.

Lakukan Test Pada Form Dan Cek Hasil Integrasi Google Sheet

Sebelum kita masuk ke pengaturan campaign di facebook ads atau Adwords kita harus cek dulu apakah semua pengaturan yang kita lakukan tadi sudah berjalan dengan baik.

1. Tambahkan URL Parameter

Untuk melakukan test pada form kita harus menambahkan dulu url parameter yang diperlukan ke url landing page kita.

Contoh:

  • utm_source=facebook
  • utm_medium=ppe
  • utm_campaign=testform
  • utm_content=ads01

Sehingga hasil akhir dari url landing page kita adalah contohnya seperti ini:
http://www.domainsaya.com/my-landing-page/?utm_source=facebook&utm_medium=ppe&utm_campaign=testform&utm_content=ads01

Bisa gunakan tools Campaign URL Builder ini untuk mempermudah menambah url parameter ke url landing page.

2. Buka Landing Page di Browser

Copy url landing page yang sudah ditambahkan parameter tersebut dan buka url nya di browser .

3. Periksa Tombol Pemesanan di Landing Page

Cek apakah tombol pemesanan yang mengarah ke halaman form pemesanan sudah otomatis ditambahkan parameter baru di url nya.

Kalau sudah otomatis ada parameter tambahan di tombol pemesanan, berarti script yang kita pasang di tag manager tadi sudah berjalan.

4. Masuk ke Halaman Form Pemesanan Dan Lakukan Test Pada Form

Begitu langkah ke 3 sudah berhasil, coba masuk ke halaman pemesanan melalui tombol pemesanan di landing page yang sudah ditambahkan url parameter.

Berikutnya di halaman pemesanan, isi kolom-kolom yang ada dalam form dan kemudian klik tombol “Kirim Pesanan”.

Kalau form sudah berhasil di submit, silahkan cek File Google Sheet yang diintegrasikan ke form dan cek apakah data-data yang kita isi di dalam form sudah masuk ke Sheet.

And… the magic happened. Setiap isian dalam form sudah otomatis masuk ke dalam Google Sheet.

Bisa diliat di kolom source, medium, campaign, dan content sudah ada data-data yang bisa kita manfaatkan untuk mengidentifikasi customer ini datang dari traffic source yang mana, dari campaign yang mana, dan dari iklan yang mana di dalam campaign itu.

Dengan ini kita sudah siap menggunakan form ini untuk tracking performa dari campaign kita. Tinggal satu langkah terakhir saja yang wajib dilakukan.

… yaitu pengaturan url saat pembuatan iklan:

Lakukan Konfigurasi URL Tracking Saat Pembuatan Iklan

Tahapan ini gunanya agar kita bisa mengidentifikasi setiap iklan berdasarkan parameter apa yang kita gunakan pada iklan tersebut.

Contoh:
Dalam sebuah campaign di facebook ads dengan tipe traffic kita membuat 3 iklan yang berbeda, dimana perbedaanya adalah dari gambarnya. Dengan contoh ini kita bisa membuat parameter seperti ini:

  • utm_source => fbads
  • utm_medium => traffic
  • utm_campaign => campaigntraffic01
  • utm_content => ads01, ads02, ads03

Sehingga… URL landing page yang akan kita masukkan saat membuat iklan adalah seperti ini:

Ads01 => http://domainsaya.com/my-landing-page/?utm_source=fbads&utm_medium=traffic&utm_campaign=campaigntraffic01&utm_content=ads01

Ads02 => http://domainsaya.com/my-landing-page/?utm_source=fbads&utm_medium=traffic&utm_campaign=campaigntraffic01&utm_content=ads02

Ads03 => http://domainsaya.com/my-landing-page/?utm_source=fbads&utm_medium=traffic&utm_campaign=campaigntraffic01&utm_content=ads03

Nah..

Dimana kita akan memasukkan URL tersebut tersebut tergantung dari dimana kita akan beriklan. Saya akan contohkan untuk 2 platform iklan yaitu Facebook Ads dan Google Adwords:

1. Pengaturan URL tracking di Facebook Ads

Kalau di Facebook Ads pengaturan URL tracking ada di level ads.

Tapi… url kita harus dipisah jadi 2 bagian, bagian yang pertama adalah url dari landing page yang kita gunakan.

Dan bagian kedua adalah url parameter untuk iklan tersebut:

Contohnya seperti ini:

Bagian 1 -> http://domainsaya.com/my-landing-page/

Bagian 2 -> utm_source=fbads&utm_medium=traffic&utm_campaign=campaigntraffic01&utm_content=ads01

URL Bagian 1 dimasukkan dalam kolom Website URL di pengaturan ads.

URL Bagian 2 dimasukkan dalam pengaturan URL parameters di Advanced Options.

Sebagai catatan, yang dimasukkan hanya parameternya saja tanpa tanda (?).

Masukkan url landing page dan parameternya disetiap ads yang ingin diidentifikasi hasilnya.

Begitu campaign berjalan dan sudah mulai mendatangkan traffic, kita bisa langsung mengetahui ads mana dalama campaign tersebut yang mendatangkan customer lewat data di Google Sheet.

2. Pengaturan URL tracking di Google Adwords

Kalau di Facebook Ads kita mesti secara manual memasukkan value dari setiap parameter untuk membedakan iklannya, di Google Adwords kita bisa memasukkan value secara otomatis dengan bantuan Adwords Tokens.

Adwords Tokens ini adalah parameter yang mempunyai value yang sifatnya dynamic.

Artinya value dari parameter tersebut bisa berubah secara otomatis mengikuti konfigurasi apa yang digunakan Google Adwords saat memunculkan iklan kita.

Contoh:

Kita ingin mengetahui ad text mana di adwords yang mendatangkan customer buat kita, maka parameter URL yang bisa kita buat adalah sebagai berikut:

  • utm_source => google
  • utm_medium => cpc
  • utm_campaign =>{{campid}}
  • utm_content => {{adid}}

Sehingga url yang akan kita masukkan saat membuat iklan di Adwords adalah seperti ini:

http://domainsaya.com/my-landing-page/?utm_source=google&utm_medium=cpc&utm_campaign={{campid}}&utm_content={{adid}}

Dan kita bisa masukkan URL tersebut secara utuh di kolom Final URL saat membuat iklan di adwords

Catatan:

Kalau menggunakan Adwords Token untuk memunculkan value dari campaign atau ads, value yang muncul akan berupa ID dan bukan nama campaign ataupun ads nya, sehingga kita harus mencocokkannya lagi agar bisa mengetahui secara pasti ID tersebut untuk campaign atau ads yang mana.

Kalau kesulitan membedakan campaign dan iklan berdasarkan ID nya, kita bisa tentukan saja nilai dari setiap parameter secara manual tanpa menggunakan Adwords Tokens.

Giliran Anda

Ini adalah salah satu alternatif untuk mengetahui secara pasti iklan mana yang benar-benar menghasilkan konversi untuk market Indonesia.

Dengan mengetahui secara pasti iklan mana yang convert, kita bisa lebih mudah memutuskan mana yang harus di scale up dan mana yang harus di stop.

Silahkan dicoba…

Anda boleh share tips ini jika dirasa bermanfaat untuk Anda.

6 thoughts on “Cara Mengetahui Iklan Mana Yang Benar-Benar Menghasilkan Penjualan Untuk Toko Online Lokal (Facebook Ads & Adwords)”

  1. Juragan Bandung

    Terima kasih mas Tondi atas artikel yang sangat berkualitas ini,
    saya akan sangat rela dan ikhlas untuk SUBSCRIBE jika ada form optin email di blog ini,
    sehingga kita bisa menerima update via email setiap ada postingan baru di blog mas Tondi ini…

    Saluuttt!
    Sekali lagi thanks mas Tondi atas artikelnya

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *