Bagaimana Cara Beradaptasi Berdasarkan Data

Beberapa hari lalu saya gak sengaja nonton videonya Mr Deddy Corbuzier yg lagi jadi speaker di Ideafest.

Well.. in my opinion, dia emang layak disebut master. Abis nonton itu jadi kepikiran banyak hal, karena dia kasih banyak insight yang bikin merenung dan mikir.

Tapi ada satu hal yg masih nyangkut sampe sekarang, quote terakhir dari dia:

“…. and the only way to survive is adapt, if you don’t adapt you’re gone.”

Simple, tapi kena banget rasanya.

Dan beberapa berita yg muncul belakangan ini seakan memverifikasi quote itu.

Seperti berita tentang beberapa bisnis yg terpaksa harus rehat karena belum bisa beradaptasi dengan dunia baru.

Kerena saya sehari-hari ada di dunia startup, memang terasa bahwa adaptasi itu penting. Apalagi sekarang menurut banyak pakar kita lagi masuk di era disruption.

Dimana di era disruption, adaptasi sangat penting.

But enough about that…

Saya mau coba bahas sudut pandang lain tentang adaptasi. Yaitu tentang “Data”.

Data is like magic.

Data bisa tunjukkan hal-hal yang luar biasa, yang buat kita bengong dan merasa gak percaya dengan apa yang kita lihat.

Persis seperti nonton sulap.

Data juga tau banyak hal tentang kita. Dia bisa tau apa yg sedang terjadi, bagaimana itu bisa terjadi, dan bisa prediksi apa yang akan terjadi selanjutnya.

Mungkin itu alasan kenapa sebuah perusahaan database terkenal memilih “Oracle” sebagai nama brand nya. Karena Oracle adalah sebutan untuk seseorang yang wise, tau banyak hal, dan bisa memprediksi masa depan.

Kapan saat yang tepat untuk adaptasi, dan bagaimana caranya untuk beradaptasi sebenarnya bisa ditemukan jawabannya lewat data.

Tapi terkadang kita gak selalu mau percaya dengan data, bahkan saat data itu udah terlihat jelas di depan mata. Fakta yg diberikan oleh data seperti gak punya power untuk merubah pola pikir dan pandangan kita.

Beberapa orang, termasuk saya juga, kadang sulit untuk mengakui saat salah. Mungkin karena kita punya insting natural untuk mempertahankan diri.

Ok.. jadi bagaimana caranya adaptasi dengan bantuan data?

Caranya singkat saja:

>> Improvise.. Adapt.. Overcome.. <<

Kita bisa mulai dengan lakukan improvisasi terhadap apa yang sedang terjadi.

Bagaimana cara improvisasi nya? Salah satu caranya adalah dengan lakukan inovasi..

Inovasi dibagian mana?

Sebenarnya ada banyak contoh inovasi yang bisa dicoba.

Tapi.. hanya inovasi yang berdasarkan analisa data lah yang akan memberikan hasil strategis.

Jadi tahapannya adalah:

Analisa Data > Improvisasi > Inovasi > Adaptasi > Solusi

Dengan analisa data secara mendalam, kita bisa temukan “pola tersembunyi” yang sebelumnya gak keliatan.

Jadi mulailah berkomunikasi dengan data yang kita punya, dan diapun akan “menceritakan” banyak hal. Tentang bisnis kita, tentang customer kita, dan tentang hal lainnya.

Dan dari cerita itu kita bisa tahu apakah sudah saatnya kita berinovasi agar bisa beradaptasi.

Misalnya aja “si data” ini bercerita kalo ternyata sebagian besar customer kita itu tinggalnya berdekatan, dilihat dari alamat tujuan di tumpukan resi pengiriman yang sudah kita proses.

Ini contoh pola tersembunyi yang sebelumnya gak kita sadari. Si data ini lagi kasih sinyal dan menunjukkan kalau kita punya celah untuk beradaptasi dan lakukan inovasi dari fakta itu.

Misalnya kita bisa pertimbangkan untuk buka toko di sekitar tempat tinggal customer untuk mempermudah mereka lakukan repeat order.

Contoh Adaptasi Dalam Internet Marketing.

Anda Pernah Buat Landing Page?

Dulu saya kalau bikin landing page itu mesti panjang dan super detil isinya.

Gak peduli apa niche nya, apa produknya, siapa target marketnya. Pokoknya mesti super panjang dan detil kalo bikin landing page.

Hasilnya adalah…

Ada yg memang bagus konversinya, dan ada juga yg bagus banget bounce rate nya, sampai lebih dari 90%.

Dari sini saya mulai sadar bahwa “si data” udah berikan sinyal pertama kalo ada sesuatu yang mesti diperbaiki. Tapi saya belum mau bertindak, karena masih yakin kalo landing page saya seharusnya works.

Oke.. sebelum memutuskan untuk bertindak saya butuh insight lainnya nih biar lebih yakin.

Saya coba explore lagi insight lainnya dari data yang saya punya.

Akhirnya ingat sesuatu…

Saya biasanya juga pasang scroll tracking di landing page, mungkin ada insight yang bisa saya dapat dari data scroll tracking ini.

Dan ternyata setelah dianalisa, lebih pusing lagi jadinya. Visitor yg masuk ke landing page kebanyakan hanya lihat kurang dari 25% isi konten di landing page itu.

Ini adalah sinyal kedua yang diberikan oleh “si data” bahwa saya harus perbaiki landing page saya.

Dari dua sinyal ini saya pun jadi lebih yakin untuk bertindak. Akhirnya saya memutuskan percaya dengan “si data” ini.

Saya pun perbaiki landing page tersebut dan dirubah jadi lebih pendek. Dan akhirnya konversi pun kembali normal. Itu adalah bentuk adaptasi yang saya lakukan.

Pelajaran yang saya dapat. Landing page panjang memang bagus tapi tidak untuk semua niche atau produk.

Mungkin untuk produk seperti software, atau beberapa produk yg butuh dijelaskan dengan detil setiap fiturnya kita bisa gunakan landing page yang panjang.

Tapi untuk produk konsumsi sehari-hari yang orang udah tau fitur dan manfaatnya dari A sampai Z, contohnya pakaian, landing page panjang bisa jadi kurang cocok.

Kesimpulannya adalah, untuk beradaptasi kita harus bisa lebih fleksibel dan juga mesti mau untuk “Learn and Act”.

  • Selalu lakukan tes
  • Ambil datanya
  • Analisa datanya

Dan dengarkan cerita dari data itu. Karena dia cuma mau ceritakan fakta. Kalau kita mau mendengarkan, tinggal selangkah lagi untuk bisa beradaptasi.

Semoga kita bisa beradaptasi dengan setiap perubahan yang terjadi.

Silahkan di share jika bermanfaat.

P.S:

Masih nyambung tentang adaptasi, ada pertanyaan penting di akhir video itu.

“When you gonna stop doing what you love now? And after that, what?”

Mesti mikir lama dulu nih baru bisa jawab. Ada yang udah bisa jawab?

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *